Budidaya Buncis

BUDIDAYA BUNCIS

I. Persiapan Lahan

Areal dibersihkan dari gulma, kotoran dan sisa tanaman lama. Kemudian dibajak dan digaru masing-masing 2 kali. Guludan dibuat dengan lebar  70 cm dan tinggi 25 cm, panjang sesuai kondisi tanah. Sedangkan lebar got 30 cm.

II. Penanaman

Kebutuhan benih induk 28 kg/ha. Lubang tanam dibuat 1 hari sebelum  tanam, dengan cara ditugal  kedalaman 2,5 cm. Jarak tanam dalam barisan 20 cm x 20 cm, antar barisan 100 cm. Sebelum ditanam benih dicampur dengan karbofuran 2 kg/ha atau 7 butir per lubang.  Jumlah benih yang ditanam per lubang adalah 2 biji.

III. Pemeliharaan Tanaman

 3.1. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan cara digejik. Pemupukan pertama (I) diberikan 14 hst (hari setelah tanam),  pupuk ZA 70 kg/ha, SP-36 70 kg/ha dan KCl 70 kg/ha, dengan jarak dari lubang tanam 5 cm, lalu ditutup lagi dengan tanah. Pemupukan kedua (II) dan ketiga (III) masing-masing diberikan umur 30 dan 45 hst, menggunakan pupuk NPK masing-masing 210 kg/ha dan 105 kg/ha, dengan jarak dari lubang tanam  adalah 10 cm.

 3.2.  Pasang lanjaran dan merambatkan tanaman

Lanjaran yang dibutuhkan adalah 21000 batang/ha, dengan tinggi 2,25 m. Kebutuhan rafia 14 kg/ha. Tali diikatkan di ujung lanjaran, sehingga menghubungkan lanjaran satu dengan lainnya. Populasi tanaman 4 tanaman per lanjaran.  Tanaman dirambatkan pada umur 20 hst.

3.3.    Hama dan Penyakit

3.3.1. Hama dan Pengendaliannya

1.  Lalat Bibit (Agromyza sp.)

Hama ini menyerang pada saat tanaman berumur 7 – 14 hst, menyerang pada pucuk tanaman sehingga tanaman tidak dapat berkembang atau tumbuh. Pengendalian hama ini dengan menggunakan pestisida Decis 25 EC dicampur dengan Marshall. Pengendalian serangan lalat bibit dilakukan dengan cara dikocor pada pangkal batang.

2.  Ulat polong (Heliothis armygera)

Hama ini menyerang mulai pada fase generatif, atau pada saat terjadi pembentukan polong pada tanaman. Pengendalian hama ini dengan menggunakan Decis 25 EC.

3.  Thrips dan Aphids sp.

Kebanyakan kedua hama ini menyerang pada kondisi panas atau pada musim kemarau. Kedua hama ini dapat menyebakan timbulnya virus pada tanaman buncis. Pengendalian hama ini dapat menggunakan pestisida Winder 25 EC, Mites atau Samite 35 EC.

Pengendalian dengan pestisida dilakukan pada umur 5, 12, 20 dan 35 hst. Dosis penggunaan pestisida 2 gr/liter atau 1,5 – 2 cc/liter sesuai formulasinya. Volume semprot tergantung tingkat serangan dan umur tanaman (1 tangki = 17 liter).

 3.3.2. Penyakit dan Pengendaliannya

1.  Virus

Virus ini disebabkan oleh vector  serangga Thrips maupun  Aphids sp. Serangan virus ini dapat mengakibatkan tanaman tidak dapat berkembang (kerdil) atau bahkan mati sehingga tidak menghasilkan buah sama sekali. Pengendalian virus ini secara kimiawi sangat sulit sekali, sehingga kita mengendalikan dengan sistem mengatur pola tanam dan diusahakan tanah cukup pengairannya.

2. Anthrachnose

Penyakit ini dapat menyerang daun maupun polong, sehingga daun terdapat bercak coklat yang kelihatan ada cincinnya demikian juga pada polong. Hal ini dapat mengurangi hasil produksi pada tanaman buncis. Pengendalian penyakit ini dapat menggunakan Kocide 77 WP dan Antracol.

 

IV. Penyiangan

Penyiangan dilakukan pada umur 15 dan 30 hst, untuk mengendalikan gulma, yang menjadi kompetitor tanaman dan perantara hama atau penyakit. Atau jika sudah perlu dilakukan penyiangan.

V. Pengairan

Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang penting dijaga agar tanaman tidak kelebihan atau kekurangan air. Pengairan diberikan setiap kali setelah tanaman dipupuk. Pengairan diberikan pada umur 5 hari sebelum    tanam dan 12, 20 dan 35 hst. Sedangkan apabila tanam pada musim penghujan, pengairan cukup dari air hujan.

VI.       Panen dan Pasca Panen

 6.1.  Panen

Panen dilakukan 4 – 5 kali mulai umur 55 – 60 hst. Panen dilakukan bila buah sudah masak fisiologis, dengan ciri-ciri warna polong coklat dan kulit kering. Untuk panen di musim hujan, panen dilakukan seawal mungkin, untuk menghindari berkecambah di pohon.

6.2.    Pasca Panen

Buah hasil panen dikeringkan 2 – 3 hari. Buah yang sudah kering dipipil dengan alat pipil seperti alat pipil untuk padi atau cara manual yaitu dengan cara digebug / dihancurkan menggunakan alat pemukul kayu / bambu. Benih hasil pipilan dikeringkan dan diseleksi / disortir sampai memenuhi standart panen yaitu kadar air 11% dan kotoran / rafaksi 1%.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: